Cerutu Kuba vs cerutu Indonesia: apa bedanya?
Cerutu Kuba adalah cerutu yang daunnya ditanam di Kuba dan digulung di Kuba. Cerutu Indonesia digulung di Indonesia, umumnya dari tembakau yang tumbuh di Indonesia,…
Baca Selengkapnya
Cerutu adalah gulungan daun tembakau yang sudah dikeringkan dan difermentasi, lalu dibungkus dengan selembar daun tembakau, tanpa kertas. Peraturan cukai Indonesia mendefinisikannya sebagai hasil tembakau dari lembaran daun tembakau, diiris atau tidak, yang digulung dengan daun tembakau (Pasal 1 angka 12 PMK Nomor 192/PMK.010/2021, dengan rumusan yang sama seperti di PMK 146/PMK.010/2017). Sebatang cerutu premium biasanya tersusun dari tiga jenis daun: daun isian di tengah, daun pengikat yang menahannya, dan daun pembungkus di bagian luar.
Definisi resminya ada di peraturan menteri keuangan tentang tarif cukai hasil tembakau. Bunyinya: “Cerutu yang selanjutnya disebut CRT adalah hasil tembakau yang dibuat dari lembaran-lembaran daun tembakau diiris atau tidak, dengan cara digulung demikian rupa dengan daun tembakau, untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.”
Kalimat itu tercantum di Pasal 1 angka 12 PMK Nomor 192/PMK.010/2021 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau berupa Sigaret, Cerutu, Rokok Daun atau Klobot, dan Tembakau Iris. Peraturan ini sudah tiga kali diubah, terakhir dengan PMK Nomor 97 Tahun 2024, tetapi perubahan itu menyangkut lampirannya dan tidak menyentuh pasal definisi. Rumusan yang sama sudah dipakai di PMK 146/PMK.010/2017 (Pasal 1 angka 11), dan kamus hukum JDIH Kemenkeu mencatatnya di sejumlah peraturan cukai lain.
Frasa “diiris atau tidak” berarti isian cerutu boleh berupa daun utuh atau potongan daun. Frasa “digulung demikian rupa dengan daun tembakau” menetapkan pembungkusnya, sehingga sebatang tembakau yang dibungkus daun tembakau masuk golongan cerutu.
Arti cerutu dalam bahasa sehari-hari sedikit lebih longgar. KBBI mengartikannya sebagai “rokok yang dibuat dari gulungan daun tembakau kering”, dengan padanan serutu dan lisong. Itu sebabnya banyak orang menyebutnya rokok cerutu, padahal di peraturan cukai cerutu dan rokok berbalut kertas (sigaret) adalah dua golongan yang berbeda.
Cerutu yang digulung tangan dibuat dari daun tembakau yang dipakai dalam tiga peran. Sebelum digulung, daun itu dikeringkan perlahan, lalu difermentasi dalam suhu dan kelembapan yang dijaga. Fermentasi membentuk rasa dan aroma daun, juga cara daun itu terbakar.
Daun isian adalah inti cerutu. Pada cerutu yang digulung tangan, beberapa lembar daun, sering kali tiga atau empat, dilipat memanjang hingga membentuk silinder. Racikan daun isian paling banyak menentukan rasa dan kekuatan cerutu.
Daun pengikat membungkus daun isian dan menahan bentuknya. Daun ini harus kuat dan lentur. Karena nantinya tertutup daun pembungkus, penampilannya tidak terlalu dipersoalkan.
Lapisan terluar, yang pertama kali terlihat dan tercium, adalah daun pembungkus. Daun ini memberi cerutu warnanya dan ikut memengaruhi rasa. Untuk peran ini dipilih daun yang lentur dengan permukaan mulus, sebab sobekan sekecil apa pun akan kelihatan.
Ketiga jenis daun ini tetap bereaksi terhadap udara di sekitarnya setelah cerutu jadi. Kalau terlalu kering, daun pembungkus bisa retak. Cara menjaganya ada di panduan menyimpan cerutu di iklim tropis.
Isian daun utuh, yang di dunia cerutu disebut long filler, memakai lembaran daun yang membentang di sepanjang batang. Isian potongan atau short filler memakai potongan daun yang lebih kecil. Menurut PMK keduanya sama-sama cerutu, karena definisinya menyebut daun yang “diiris atau tidak”.
Cerutu yang digulung tangan secara tradisional memakai isian daun utuh. Cerutu buatan mesin biasanya diisi daun yang sudah dicacah. Perbedaannya bisa dilihat di kaki cerutu, yaitu ujung yang terbuka: isian daun utuh tampak sebagai lipatan daun yang tersusun, sedangkan isian potongan tampak sebagai kepingan kecil yang rapat.
Urutan kerjanya mirip di banyak tempat pembuatan cerutu, walaupun setiap penggulung punya kebiasaannya sendiri.
Sebagian pabrik memakai alat untuk menyusun isian dan daun pengikat, sementara daun pembungkusnya tetap dipasang dengan tangan. Pada cerutu buatan mesin, hampir semua langkah ini dikerjakan mesin.
Kalau yang dimaksud rokok adalah sigaret, yaitu batang tembakau berbalut kertas, perbedaannya terletak pada bahan dan cara membuatnya. Peraturan yang sama mendefinisikan sigaret sebagai “hasil tembakau yang dibuat dari tembakau rajangan yang dibalut dengan kertas dengan cara dilinting” (Pasal 1 angka 4). Perbandingan di bawah ini memakai definisi PMK 192/PMK.010/2021 saja. Ukuran batang tidak disebut dalam kedua definisi itu.
| Aspek | Cerutu (CRT) | Sigaret |
|---|---|---|
| Isian | Lembaran daun tembakau, diiris atau tidak | Tembakau rajangan |
| Pembungkus | Daun tembakau | Kertas |
| Istilah pembuatan | Digulung | Dilinting |
| Cengkih | Tidak disebut dalam definisi | Dicampurkan pada sigaret kretek, tidak ada pada sigaret putih |
| Filter | Tidak disebut dalam definisi | Disebut pada sebagian jenis sigaret |
Cerutu yang digulung tangan dengan isian daun utuh hampir seluruhnya tembakau. Daun isian, daun pengikat, dan daun pembungkusnya semuanya berupa daun tembakau. Bahan lainnya biasanya hanya sedikit perekat untuk menempelkan cap.
Sebagian cerutu buatan mesin diisi daun yang dicacah, dan daun pembungkusnya bisa diganti dengan lembaran tipis yang dibuat dari bubur tembakau olahan. Lembaran ini berasal dari tembakau, hanya saja tidak lagi berbentuk daun.
Definisi hukumnya juga tidak menuntut 100% tembakau. Menurut PMK, sebatang tembakau yang dibuat dan dibungkus seperti cerutu tetap tergolong cerutu “tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya”.
Ya, selama dibungkus daun tembakau. Cigarillo adalah cerutu yang lebih pendek dan lebih ramping daripada cerutu biasa, dan banyak di antaranya dibuat dengan mesin. Karena definisi PMK tidak mengatur ukuran, batang sekecil apa pun yang digulung dengan daun tembakau masuk golongan cerutu.
Ada juga batang kecil berbalut kertas yang dijual dengan nama cigarillo. Dalam definisi PMK yang sama, pembungkus kertas adalah ciri sigaret.
Orang Eropa pertama kali melihat gulungan tembakau diisap ketika awak kapal Christopher Columbus bertemu orang Taíno di Kuba pada 1492. Pada abad ke-16 tembakau sudah sampai ke Spanyol, Portugal, Prancis, dan Inggris.
Di Spanyol, tembakau dari Amerika diolah di pabrik milik kerajaan. Di Sevilla, Real Fábrica de Tabacos dibangun pada abad ke-18. Pabrik itu mula-mula membuat tembakau bubuk, lalu cerutu, dan gedungnya kini menjadi rektorat Universitas Sevilla. Pada abad ke-19, Havana sudah dikenal sebagai pusat pembuatan cerutu. Perbedaan cerutu Kuba dan cerutu buatan Indonesia kami bahas di cerutu Kuba vs cerutu Indonesia.
Di Hindia Belanda, tembakau untuk cerutu mulai ditanam di perkebunan besar pada abad ke-19, ketika cerutu sedang digemari di Eropa. Di Jember, perkebunan tembakau Besuki Na-Oogst mulai dibuka pada 1859, menurut Museum Lembaga Tembakau Jember. Daun tembakau dari Jember kemudian banyak dipakai sebagai bahan cerutu di luar negeri. Di Deli, Sumatra Timur, perkebunan tembakau dibuka pada 1863. Kisah Jember kami tulis lengkap di halaman cerutu Jember.
Papasito adalah merek cerutu yang lahir di Bali. Cerutu kami digulung tangan di Jember, Jawa Timur, dari tembakau benih Havana. Koleksi kami terdiri atas dua cerutu: Sugar Daddy, format Robusto Extra berukuran 52 x 140 mm dengan daun pembungkus Natural, dan Short King, format Short Gordo berukuran 60 x 110 mm dengan daun pembungkus Maduro. Cerita lengkapnya ada di halaman Tentang Kami. Seperti semua cerutu, Papasito hanya untuk orang dewasa berusia 21 tahun ke atas. Harga dan cara membelinya ada di halaman cerutu Papasito.
Papasito digulung tangan di Jember, Jawa Timur.
Cerutu Kuba adalah cerutu yang daunnya ditanam di Kuba dan digulung di Kuba. Cerutu Indonesia digulung di Indonesia, umumnya dari tembakau yang tumbuh di Indonesia,…
Baca SelengkapnyaJember dikenal sebagai daerah cerutu karena kabupaten di bagian timur Jawa Timur ini menanam tembakau Besuki Na-Oogst, daun untuk bahan cerutu yang dibudidayakan di sana…
Baca SelengkapnyaBali tidak butuh perkenalan. Namun, Bali yang dialami kebanyakan orang (tur sehari, pura yang ramai di Instagram, matahari terbenam di Tanah Lot) baru menyentuh permukaannya…
Baca SelengkapnyaMomen-momen menyenangkan, racikan baru, dan cerita dari Bali, dikirim langsung ke kotak masuk Anda.
Tanpa spam. Berhenti berlangganan kapan saja.