Seni Cerutu

Cerutu Jember dan tembakau Besuki Na-Oogst

29 Oktober 20267 menit baca

Jember dikenal sebagai daerah cerutu karena kabupaten di bagian timur Jawa Timur ini menanam tembakau Besuki Na-Oogst, daun untuk bahan cerutu yang dibudidayakan di sana sejak perkebunan Belanda dibuka pada 1859. Daun ini dipakai sebagai daun pembungkus, daun pengikat, dan daun isian cerutu, dan sebagian besar hasilnya diekspor. Jember juga kabupaten penghasil tembakau terbesar di Jawa Timur, provinsi yang menyumbang hampir separuh produksi tembakau Indonesia.

Sebutan “cerutu Jember” biasanya dipakai untuk cerutu buatan Jember. Pembuatnya beragam, mulai dari unit usaha perkebunan negara dan koperasi sampai perusahaan swasta.

Mengapa Jember disebut kota tembakau?

Sebelum abad ke-19, Jember hanyalah distrik kecil di bawah Lamajang. Keadaannya berubah pada 1859, ketika NV Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD), perusahaan perkebunan tembakau Belanda, didirikan di sana. Menurut situs pariwisata resmi Indonesia.travel, pendirinya memperoleh hak erfpacht, yaitu hak guna usaha jangka panjang, di kawasan Jenggawah untuk menanam tembakau Besuki Na-Oogst. Tembakau dipilih karena pasar Eropa dan Amerika ketika itu banyak membutuhkan bahan cerutu.

Seiring tumbuhnya perkebunan, Jember berkembang dari distrik kecil menjadi pusat pemerintahan sendiri. Kabupaten Jember dibentuk lewat Staatsblad Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 yang berlaku mulai 1 Januari 1929, dan hari jadinya diperingati setiap 1 Januari. Di pasar dunia, tembakau Jember terutama dikenal di Jerman dan Belanda sebagai bahan cerutu.

Setelah kemerdekaan, perusahaan-perusahaan Belanda dinasionalisasi melalui Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958. LMOD dan Besoeki Tabaks Maatschappij diubah menjadi Perusahaan Perkebunan Negara, lalu menjadi PTP XXVII pada 1972 dan PT Perkebunan Nusantara X pada 1996. Masa jaya tembakau Jember mulai surut pada 1970-an, ketika banyak perusahaan tidak sanggup menghadapi perubahan pasar dan akhirnya tutup. Pada akhir 2024, detikJatim mencatat masih ada 18 eksportir tembakau yang bertahan di Jember.

Lembaga yang menjaga mutu tembakau di kota ini juga berakar pada masa kolonial. Pada zaman Belanda ada Krosok Centrale, yang pada 1954 berganti nama menjadi Badan Urusan Tembakau dan pada 1962 menjadi Lembaga Tembakau. Kini namanya UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang dan Lembaga Tembakau (PSMB-LT) Jember. Lembaga di bawah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur ini masih menguji mutu tembakau, dan juga mengelola museum yang dibahas di bagian bawah.

Apa itu tembakau Besuki Na-Oogst?

Di Indonesia, tembakau dibedakan menurut musim tanamnya. Tembakau Voor-Oogst (VO) ditanam pada akhir musim hujan dan dipetik pada musim kemarau. Sebagian besar dipakai untuk rokok putih dan kretek di dalam negeri. Tembakau Na-Oogst (NO) mengikuti jadwal yang berlawanan: ditanam pada akhir musim kemarau dan dipetik pada awal musim hujan. Jenis inilah yang menjadi bahan cerutu dan cigarillo, dan sebagian besar diekspor (Politeknik Negeri Jember, 2023).

Besuki Na-Oogst adalah tembakau NO dari wilayah bekas Karesidenan Besuki, yang meliputi Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Peneliti Universitas Jember mencatat bahwa sekitar 90% Besuki Na-Oogst diekspor. Di Jember juga banyak ditanam tembakau kasturi. Kasturi termasuk golongan VO dan dipakai terutama untuk kretek.

Sebagian besar wilayah Jember berupa dataran rendah, dengan ketinggian rata-rata sekitar 83 meter di atas permukaan laut, dan tanahnya cocok untuk tembakau, tebu, kopi, dan kakao. Waktu tanam Na-Oogst tidak sama di semua tempat. Di Jember Selatan, petani dan perusahaan banyak menanam Besuki Na-Oogst Tanam Awal untuk menghasilkan daun pengikat dan daun pembungkus bermutu tinggi. Jenis ini cocok untuk musim hujan, tetapi cara budi dayanya perlu disesuaikan agar tanaman tidak kelebihan air dan kelembapan.

Daun pembungkus, daun pengikat, dan daun isian

Sebatang cerutu tersusun dari tiga bagian daun. Daun isian (filler) berada di tengah, daun pengikat (omblad) menahan isian, dan daun pembungkus (dekblad) membalut bagian luar. Istilah Belanda dekblad dan omblad masih lazim dalam penelitian dan perdagangan tembakau di Jember. Penjelasan lengkap tentang bagian-bagian ini ada di panduan apa itu cerutu.

Daun untuk pembungkus dan pengikat harus tipis, tetapi tidak terlalu tipis sampai mudah robek. Warna, kerataan warna, dan kelenturannya juga dinilai. Karena syaratnya ketat, hanya sedikit daun yang lolos sebagai pembungkus. Dalam penelitian Politeknik Negeri Jember pada 2022 terhadap tembakau bawah naungan (TBN), yaitu tembakau cerutu yang ditanam di bawah jaring peneduh, kurang dari 3% daun yang diuji diproyeksikan layak menjadi bahan pembungkus. Sebagian besar daun lainnya menjadi bahan isian.

Berapa banyak tembakau yang dihasilkan Jember?

Data terbaru Kementerian Pertanian ada di Outlook Tembakau 2024. Mengutip FAO, laporan itu menyebut Indonesia sebagai produsen tembakau terbesar keempat di dunia pada 2022, setelah Tiongkok, India, dan Brasil. Produksi tembakau Indonesia pada 2023 (angka sementara) tercatat 238.806 ton dari 14 provinsi, dan Jawa Timur menyumbang 45,65% di antaranya. Di provinsi itu, Jember berada di urutan pertama.

KabupatenProduksi tembakau 2022 (ton)Porsi dari Jawa Timur
Jember28.99929,13%
Probolinggo11.30411,36%
Pamekasan11.27311,32%
Bojonegoro11.25011,30%
Situbondo6.8796,91%
Jawa Timur (total)99.542100%

Sumber: Kementerian Pertanian, Outlook Tembakau 2024, Lampiran 5, data Direktorat Jenderal Perkebunan yang diolah Pusdatin.

Produksi Jember sekitar dua setengah kali lipat kabupaten kedua, Probolinggo. Outlook yang sama membagi tembakau Jember menjadi tiga jenis: tembakau besuki sekitar 11,4 ribu ton, kasturi sekitar 14,8 ribu ton, dan tembakau jawa sekitar 1,1 ribu ton. Dari sisi volume, kasturi untuk kretek justru lebih banyak daripada besuki untuk cerutu.

Angka ini bisa naik turun dari tahun ke tahun. Tanaman tembakau peka terhadap curah hujan, kelembapan, dan suhu. Penelitian Politeknik Negeri Jember mencatat bahwa produktivitas kasturi dan Besuki Na-Oogst di Jember pernah menurun karena cuaca yang tidak menentu, curah hujan tinggi, abu vulkanik Gunung Raung, dan kurangnya sarana produksi.

Apa yang terjadi di gudang tembakau Jember?

Setelah dipetik, daun Na-Oogst dikeringkan di gudang pengering dengan aliran udara, cara yang disebut air curing. Daun ditusuk dengan jarum, dirangkai pada tali goni, lalu digantung pada bambu. Selama proses ini, kadar air daun yang baru dipetik, sekitar 80 sampai 90%, turun perlahan melalui tiga tahap: penguningan, pengikatan warna, dan pengeringan lembar daun.

Meski namanya pengeringan udara, gudang bisa memakai api kecil pada tahap awal untuk menaikkan suhu, dan api yang lebih besar di akhir untuk mengeringkan gagang. Dalam penelitian Politeknik Negeri Jember, daun dianggap siap diturunkan setelah sekitar 20 sampai 22 hari di gudang, ketika gagangnya sudah benar-benar kering, daunnya lentur, dan kadar airnya 16 sampai 20%. Tahap menurunkan daun ini disebut rompos. Setelah itu daun dipilah menurut posisinya di batang, ketebalan, kelenturan, dan kerataan warna. Hasil pemilahan menentukan daun mana yang menjadi pembungkus, pengikat, atau isian.

Kelembapan tetap penting setelah daun menjadi cerutu. Cara menjaganya di rumah, termasuk di iklim tropis, ada di panduan menyimpan cerutu.

Melihat gudang tembakau pada musim panen

Gudang tembakau tradisional mudah dikenali di tengah sawah pada musim tembakau. Bangunannya memanjang ke belakang dan sebagian besar berupa atap, sering beratap jerami dan berdinding anyaman bambu, sehingga pendatang kadang mengiranya rumah adat. Warga setempat menyebutnya gudang mbako. Di dalamnya, rangkaian daun digantung berjajar seperti jemuran agar tidak saling menempel.

Karena Na-Oogst dipetik pada awal musim hujan, panen dan pengeringannya biasanya berlangsung sekitar pergantian musim kemarau ke musim hujan. Waktunya bergeser menurut lokasi dan cuaca setiap tahun. Gudang umumnya milik perkebunan, koperasi, atau petani, jadi mintalah izin sebelum masuk.

Apa yang bisa dilihat di Museum Tembakau Jember?

Museum Tembakau Jember berada di kantor UPT PSMB-LT, Jalan Kalimantan Nomor 1, Sumbersari, sekitar 500 meter dari Universitas Jember. Museum ini dibuka pada 1 Juli 2014. Awalnya ruangan ini adalah perpustakaan internal lembaga, lalu dikembangkan menjadi museum dan perpustakaan untuk keperluan edukasi. Pengelolanya menyebutnya satu-satunya museum khusus tembakau di Indonesia, dan museum ini terdaftar dengan Nomor Pendaftaran Nasional Museum 35.09.K.03.0351.

Alur pamerannya terbagi dalam tujuh tema:

  • sejarah tembakau dunia;
  • sejarah tembakau Indonesia;
  • teknik budi daya tembakau di Indonesia;
  • pengolahan dan mutu tembakau;
  • pemeriksaan mutu tembakau;
  • etnografi tembakau;
  • diversifikasi produk tembakau.

Setiap koleksi diberi kode QR berisi keterangan digital. Liputan Kompas pada 2019 mencatat daun tembakau yang digantung di langit-langit, contoh tembakau dari Jember, Bondowoso, Banyuwangi, dan daerah lain dalam toples kaca berlabel asal, replika gudang pengering, alat pengolahan tembakau, serta batik bermotif daun tembakau. Lantai dua menjadi perpustakaan dengan koleksi buku tentang tembakau.

Menurut halaman resmi museum, museum buka Senin sampai Jumat pukul 08.00 sampai 16.00 WIB, dengan tiket masuk. Jadwal bisa berubah, jadi periksa halaman itu sebelum datang.

Seperti apa pabrik cerutu Jember sekarang?

Pabrik cerutu Jember beragam skalanya. Ada unit usaha milik perkebunan negara yang bekerja sama dengan koperasi produsen, ada pula perusahaan swasta yang membuat cerutu dalam beberapa ukuran, dari cigarillo sampai cerutu besar. Salah satu produsen milik perkebunan negara menyebut seluruh prosesnya, dari tanam, panen, dan pengolahan sampai peracikan, dikerjakan dengan tangan. Beberapa produsen sudah mengirim cerutunya ke luar negeri, termasuk ke Eropa.

Pada November 2022, cerutu Jember ikut dipamerkan di Future SMEs Village, acara sampingan presidensi G20 Indonesia di Bali. Perbedaan cerutu buatan Indonesia dan cerutu dari Kuba kami bahas di cerutu Kuba vs cerutu Indonesia.

Papasito dan Jember

Papasito adalah merek cerutu yang lahir di Bali. Cerutu kami digulung tangan di Jember, Indonesia, dengan tembakau dari benih Havana. Saat ini ada dua cerutu: Sugar Daddy (Robusto Extra, 52 x 140 mm, daun pembungkus Natural) dan Short King (Short Gordo, 60 x 110 mm, daun pembungkus Maduro). Satu kotak penuh berisi 20 batang. Cerutu Papasito hanya untuk orang dewasa berusia 21 tahun ke atas. Harga dan cara membelinya ada di halaman cerutu Papasito.

Kisah merek kami ada di halaman Tentang Kami, dan rincian kedua cerutu ada di halaman Koleksi Cerutu.

BagikanWhatsApp
Baca juga

Dari Blog Papasito

Ikuti kabar terbaru

Bergabung dengan Klub

Momen-momen menyenangkan, racikan baru, dan cerita dari Bali, dikirim langsung ke kotak masuk Anda.

Tanpa spam. Berhenti berlangganan kapan saja.