Gaya Hidup Bali

Mengapa Bali diam-diam menjadi salah satu tempat terbaik di dunia untuk menikmati cerutu

14 Maret 20263 menit baca

Saya tidak pernah berencana menjadi penikmat cerutu di Bali. Semuanya terjadi seperti kebanyakan hal baik lainnya: perlahan, nyaris tanpa sengaja, pada suatu malam yang hangat, tanpa ada tempat yang harus dituju.

Saya sedang duduk di sebuah rooftop bar di Seminyak, memandangi langit memamerkan atraksi andalannya saat golden hour, mewarnai seluruh pulau dengan semburat jingga keemasan dan merah jambu, ketika pria di sebelah saya menawari saya sebatang cerutu. Bukan cerutu murahan. Cerutu yang digulung tangan dengan benar, dinyalakan dengan cermat, dipotong dengan rapi. Saya mengiyakan, lebih karena sungkan.

Satu jam kemudian, saya belum beranjak sedikit pun. Bir saya sudah hangat. Saya tidak peduli.

Itulah perkenalan saya dengan apa yang kemudian saya sebut cara menikmati cerutu ala Bali. Tanpa terburu-buru. Hadir sepenuhnya. Jauh berbeda dari ritme hidup yang saya jalani selama enam bulan sebelumnya. Dan itu membuat saya bertanya-tanya: dari sekian banyak tempat, mengapa justru Bali yang terasa begitu tepat untuk ini?

Iklimnya benar-benar sempurna

Cerutu dan kelembapan punya hubungan yang rumit. Terlalu kering, daun pembungkusnya retak. Terlalu lembap, tarikannya jadi seret. Bali berada di titik yang pas: hangat tetapi tidak menyesakkan, dengan kadar uap air di udara yang cukup untuk menjaga bentuk cerutu yang baik dan membuatnya terbakar merata sejak pertama dinyalakan hingga sentimeter terakhir.

Sejumlah daerah penghasil tembakau terbaik di dunia memiliki profil iklim yang serupa. Bedanya, Bali juga menyuguhkan matahari terbenam.

Tidak ada yang terburu-buru

Kedengarannya klise, tetapi ini benar dalam arti yang sangat praktis. Bali berjalan dengan jamnya sendiri. Restoran tidak akan buru-buru menyuruh Anda pergi. Teman datang terlambat dan tidak ada yang keberatan. Sebatang cerutu sungguhan, bukan batang tipis buatan mesin, butuh 45 menit hingga satu jam untuk dinikmati dengan semestinya. Di sebagian besar tempat di dunia, komitmen seperti itu terasa nyaris antisosial. Di Bali, itu hal biasa saja, bahkan di hari kerja.

Tembakaunya tumbuh di pulau sebelah

Bagian inilah yang tidak diketahui kebanyakan pengunjung. Indonesia adalah salah satu negara penghasil tembakau utama di dunia. Pulau Jawa, yang hanya sepelemparan batu dari Bali, telah menanam tembakau premium selama berabad-abad, termasuk varietas yang ditanam dari benih Havana, galur yang sama dengan tembakau yang membuat cerutu Kuba termasyhur.

Tembakau itu tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk menjadi cerutu yang istimewa. Sebagian bahkan digulung di sini, oleh orang-orang yang telah menekuni pekerjaan ini sepanjang hidup mereka, dengan ketelitian yang benar-benar bisa Anda rasakan. Saat menyalakan cerutu Indonesia yang digulung tangan di Bali, mau tidak mau Anda menyadari betapa singkat perjalanan yang ditempuhnya hingga sampai ke tangan Anda.

Teman-teman berbagi cerutu di rooftop saat senja, di bawah lampu gantung

Ritual sosialnya berbeda

Di banyak tempat, cerutu membawa beban citra: identik dengan ruang rapat direksi, perayaan, dan semacam ajang unjuk gengsi. Di Bali, budayanya berbeda. Berbagi cerutu adalah bentuk kemurahan hati. Cerutu menjadi alasan untuk duduk tenang sejenak, tanda bahwa malam telah memasuki babak yang berbeda.

Beberapa percakapan terbaik dalam hidup saya terjadi sambil menikmati cerutu di Bali, bersama orang-orang yang baru saya kenal, tanpa ada yang terburu-buru pergi ke mana pun. Cerutu membuat tangan Anda punya kesibukan, sekaligus memberi alasan untuk tinggal sedikit lebih lama.

Anda mulai memperhatikan dengan cara berbeda

Inilah bagian yang paling sulit saya jelaskan. Cerutu yang baik mengajak Anda melambat dan memperhatikan banyak hal. Anda menyadari rasanya yang berubah: manis di awal, nuansa earthy yang makin dalam seiring waktu, lalu sisa rasa panjang yang bertahan setelah tarikan terakhir. Anda menyadari cahaya yang berubah. Anda menyadari orang-orang di sekitar Anda.

Cerutunya sendiri nyaris bukan hal yang utama. Cerutu sebenarnya hanyalah alasan untuk berdiam diri cukup lama hingga Anda benar-benar melihat di mana Anda berada.

Pada akhirnya

Sejak malam pertama di Seminyak itu, saya sudah menikmati cerutu di banyak tempat. Namun, ada sesuatu tentang Bali (ritmenya, udaranya, dan kenyataan bahwa cerutu Indonesia yang istimewa praktis tumbuh di pulau sebelah) yang membuat seluruh pulau ini terasa seolah memang dirancang untuk momen seperti ini.

Di mana pun Anda berada nanti, sarannya sederhana: temukan cerutu yang baik, temukan tempat dengan pemandangan, dan jangan terburu-buru.

BagikanWhatsApp
Baca juga

Dari Blog Papasito

Ikuti kabar terbaru

Bergabung dengan Klub

Momen-momen menyenangkan, racikan baru, dan cerita dari Bali, dikirim langsung ke kotak masuk Anda.

Tanpa spam. Berhenti berlangganan kapan saja.