Saya tidak pernah berencana menjadi penikmat cerutu di Bali. Semuanya terjadi seperti kebanyakan hal baik lainnya: perlahan, nyaris tanpa sengaja, pada suatu malam yang hangat, tanpa ada tempat yang harus dituju.
Saya sedang duduk di sebuah rooftop bar di Seminyak, memandangi langit memamerkan atraksi andalannya saat golden hour, mewarnai seluruh pulau dengan semburat jingga keemasan dan merah jambu, ketika pria di sebelah saya menawari saya sebatang cerutu. Bukan cerutu murahan. Cerutu yang digulung tangan dengan benar, dinyalakan dengan cermat, dipotong dengan rapi. Saya mengiyakan, lebih karena sungkan.
Satu jam kemudian, saya belum beranjak sedikit pun. Bir saya sudah hangat. Saya tidak peduli.
Itulah perkenalan saya dengan apa yang kemudian saya sebut cara menikmati cerutu ala Bali. Tanpa terburu-buru. Hadir sepenuhnya. Jauh berbeda dari ritme hidup yang saya jalani selama enam bulan sebelumnya. Dan itu membuat saya bertanya-tanya: dari sekian banyak tempat, mengapa justru Bali yang terasa begitu tepat untuk ini?
Iklimnya benar-benar sempurna
Cerutu dan kelembapan punya hubungan yang rumit. Terlalu kering, daun pembungkusnya retak. Terlalu lembap, tarikannya jadi seret. Bali berada di titik yang pas: hangat tetapi tidak menyesakkan, dengan kadar uap air di udara yang cukup untuk menjaga bentuk cerutu yang baik dan membuatnya terbakar merata sejak pertama dinyalakan hingga sentimeter terakhir.
Sejumlah daerah penghasil tembakau terbaik di dunia memiliki profil iklim yang serupa. Bedanya, Bali juga menyuguhkan matahari terbenam.
Tidak ada yang terburu-buru
Kedengarannya klise, tetapi ini benar dalam arti yang sangat praktis. Bali berjalan dengan jamnya sendiri. Restoran tidak akan buru-buru menyuruh Anda pergi. Teman datang terlambat dan tidak ada yang keberatan. Sebatang cerutu sungguhan, bukan batang tipis buatan mesin, butuh 45 menit hingga satu jam untuk dinikmati dengan semestinya. Di sebagian besar tempat di dunia, komitmen seperti itu terasa nyaris antisosial. Di Bali, itu hal biasa saja, bahkan di hari kerja.
Tembakaunya tumbuh di pulau sebelah
Bagian inilah yang tidak diketahui kebanyakan pengunjung. Indonesia adalah salah satu negara penghasil tembakau utama di dunia. Pulau Jawa, yang hanya sepelemparan batu dari Bali, telah menanam tembakau premium selama berabad-abad, termasuk varietas yang ditanam dari benih Havana, galur yang sama dengan tembakau yang membuat cerutu Kuba termasyhur.
Tembakau itu tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk menjadi cerutu yang istimewa. Sebagian bahkan digulung di sini, oleh orang-orang yang telah menekuni pekerjaan ini sepanjang hidup mereka, dengan ketelitian yang benar-benar bisa Anda rasakan. Saat menyalakan cerutu Indonesia yang digulung tangan di Bali, mau tidak mau Anda menyadari betapa singkat perjalanan yang ditempuhnya hingga sampai ke tangan Anda.